Dada yang menyesakkan dada

Penataan streetscape Kota Bandung sekarang ini sudah kacau sekali. Dimana-mana berserakan reklame butut, spanduk2 ga jelas, ruko2 butut (disini kata butut bukan sama dengan lama dan mau bobrok, tapi desainnya bikin sakit mata), mal2 segede (segede naon nya? soalnya udah lebih gede dari gajah yang selama ini jadi analogi sesuatu yang maha besar-kan ga mungkin bilang segede tuhan), taman2 pemda yang ditata siga di imah sorangan (alias selera ibu2 pkk-maaf nih pada para ibu2 pkk, saya juga sudah ibu2 sih sebenarnya,hehehe), dsb dsb. Semuanya sama sekali
tidak membuat atmosfir kota menjadi nyaman terutama di siang hari.

Belum lagi masalah penataan pohon, ato bahkan sebelum penataan- yaitu PENGADAAN pohon.
Ada
sih pohon di pinggir jalan, tapi keadaannya sungguh menyedihkan.
Rata-rata kalau nggak ditebang, dikuliti, tidak dirawat, dibiarkan
mati. Yang lebih parah adalah ada beberapa jalan yang tidak ada
pohonnya sama sekali di kiri-kanannya.

Kalau di Republik saya (Republik Nusantara-bukan Nusangsara), setiap perencana kota WAJIB merencanakan
penanaman pohon di setiap pinggir jalan dan WAJIB merawat hingga pohon
tersebut berfungsi penuh. Setelah direncanakan dan ditanam, dinas tata
kota HARUS melakukan pemeliharaan, penyiraman SETIAP PAGI DAN SORE HARI, melakukan perawatan reguler (pupuk, insektisida dll), dan
MENGHUKUM SEBERAT-BERATNYA (death penalty) bagi :

  1. penebang hutan apalagi pembakar hutan
  2. perencana yang tidak merencanakan pepohonan pada rancangannya
  3. dinas-dinas terkait yang tidak melaksanakan KEWAJIBANNYA dalam merawat pepohonan yang mengakibatkan pepohonan tersebut sengsara

Dan juga di RN (Republik Nusantara), selera adalah PENTING, ada hukuman berat bagi
perancang taman kota yang rancangannya seperti taman-taman bikinan
PEMDA yang seperti BAK BUNGA raksasa (in case Bandung : depan
monumen perjuangan, Cikapayang, depan rumah dada-yang terakhir ini masih meureun, cuma asumsi mengingat selera beliau..).

Saya mengutip kata-kata dari profesor saya:"saya ga liat ada sih susahnya jadi walikota". tapi saya juga ngutip kata-kata dari salah satu iklan favorit saya:"harusnya gampang dibikin susah".

ITULAH NKRI!!!

Suatu siang di hari Jumat beberapa minggu yang lalu, saya duduk semeja dengan wakil2 dari: dinas pertamanan, dinas persampahan, dinas perparkiran, pu jasa marga, dishub, pt bandung berbunga (kontraktor pilihan walikota yang selama ini membangun taman2 di bandung-you know what i mean, right-and i don’t know why he chose them), dsb yang semuanya lengkap dengan seragam kebesaran masing2.

Sayangnya pa walikota berhalangan hadir (seperti yang saya duga), saya akan cerita mengenai hal ini pada post saya berikutnya, tapi kesimpulan yang saya tarik adalah:semua dinas itu tunduk ama walikota dan tidak berani membantah sedikit pun (takut posisina kageser, kitu?). Apa2 bilang "oh, tapi hal ini sudah diinstruksikan bapa wali", atau "oh, ini sudah ada PERDA-nya". Padahal justru saya dan kawan2 beramai2 kesana (ini juga nanti saya ceritakan lengkapnya) mau mengusulkan sesuatu yang bisa jadi PERDA-nya sendiri yang harus dirubah, tokh yang bikin juga manusia. sama dengan UUD 45 pun sebenernya kalo mau, bisa dirubah.

Ah sudahlah, sepuluh menit lagi mahasiswa mau pada UTS..daripada merusak mood di pagi hari mikirin Kota Bandung, cukup sekian saja post hari ini..

2 Responses to “Dada yang menyesakkan dada”

  1. viesta Says:

    sebagai orang yang lahir dan dibesran di bandungg, rasanya miris melihat perkembangan bandung semakin acakadut, pabalatak tidak jelas. apalagi pas lewat samping gedung sate (yang kelewatan ama angkot rgbdg-dg) walah pohon di tengah jalan udah ditebangin. siapa yang telah berbuat neh? terus ngeliat taman2 di sepanjang jalan yang kering kerontang ga ada yang ngurus. perasaan waktu jaman gue sd suka ada mobil dinas yang tugasnya nyiramin taman2 di kota. sekarang dinas itu masih ada atau udah mampus dengan alasan tidak ada biaya operasional??
    tanya kennapa?

  2. Dyah Says:

    karunya nya Bandung teh…

Leave a Reply