Sebuah Prolog dari pak RW

Sebelumnya saya mohon maaf kalo ada yang ga suka dengan apa yang saya tulis, tapi yang saya tuliskan di bawah hanya apa pendapat saya dan apa yang saya rasakan (dan ga ngajak orang-orang untuk sepaham ama saya sebenernya, alias ini mah hanya curhat)

Kebetulan saya punya teman sekaligus senior saya di Arsitektur (seniorna jauh pisan karena usianya sama dengan ibu saya) yang menjadi ketua RW di jalan Dago. Sambil lalu sempat cerita bahwa depan jalan rumahnya alias trotoar jalan Dago mau "ditata". Nah, mumpung kita2 ini punya sedikit ilmu disana, daripada hasilnya "begitu tea you know what i mean" (boro2 know what i mean ceuk nu baca teh lieur we nu aya-ato untuk lebih ngerti liat aja ke jalan dago), kita berusaha membuat semacam desain untuk mengguide para kontraktor. Niat ini sebenarnya hanya kepedulian warga aja terhadap ruang publik kota Bandung, bukan maksud mau ngaririweuh dinas2 yang sudah cukup riweuh, dan kerja sosial (ga dibayar sama sekali, bahkan ngamodal sendiri untuk biaya2 printing, dsb). Dan sebagai catatan juga kita ga nambah2 biaya untuk membebani kontraktor, jadi biaya penataan yang kita rancang sama dengan biaya anggaran mereka.

Nah, untuk keperluan diatas saya sempat ngobrol2 dengan Pak RW berjam2 dan mendengar banyak sekali "kisah-kisah" dibalik our famous jalan Dago. Kesimpulan yang saya ambil adalah baik jalan Dago yang merupakan salah satu jalan utama di Bandung, ternyata memiliki perilaku penataan kawasan yang sama dengan gang-gang di pelosok kota ini (perlu diketahui, penggal jalan Dago sebelah atas masih banyak hunian). Ada beberapa kasus yang saya selalu ingat, diantaranya:

  1. Lampu jalan di jalan Dayang Sumbi kan ga ada, jadi jalan pararoek (gelap) di malam hari. Warga yang tinggal disana merasa sareukseuk (apa yah translate-nya, semacam kurang nyaman dan kurang sreg-lah) dengan keadaan itu, belum lagi urusan keamanan yang jadi rawan. Menanti kabar dari PEMDA mah mungkin masih anggaran kesekian, jadi salah seorang warga disana MAU menyumbang lampu jalan yang kualitasnya sama dengan lampu jalan biasa. Pak RW menawarkan bagaimana kalo nanti listriknya sumbangan, taunya si warga bilang "lu kira gue ga mampu apa bayar listrik segitu, usah gue yang bayar aja no problemo". BAYANGKAN, betapa tolerannya warga kita ini. Mau mengeluarkan biaya untuk kepentingan umum yang tidak sedikit!!!
  2. Jalan bolong di depan salah satu warga, dan lagi2 karena sareukseuk dan sudah lama ga diperbaiki, sedangkan nunggu lagi dari PEMDA mah ntah iraha, dengan inisiatif warga tsb memperbaiki jalan pake kocek pribadi sehingga mulus kembali dan pengguna jalan Dago pun lebih nyaman make jalannya. Tapi taukah apa yang terjadi??? Ternyata warga tsb didatangi "petugas" dan ditegur karena memperbaiki jalan tsb karena sebenarnya sudah masuk anggaran kesekian dan akan dilaksanakan pada saat sekian juga. Belum lagi harus ada foto2 0% pengerjaan, 50% pengerjaan dan 100% pengerjaan. Akhirnya warga nyari2 foto bukti dari jalan bolong lain dan ga dipermasalahkan. Lalu anggaran tersebut lari kemana dong, soalnya warga mah ga diganti juga. I’m speechless…
  3. Got rubuh lagi2 didepan rumah warga dan lagi2 ada warga yang sareukseuk karena ga juga ada yang memperbaiki. Tapi karena ada pengalaman si jalan bolong jadi pada takut memperbaiki, hingga ada warga yang bilang:"duh, nu kitu mah saya tinggal nitah tukang sapoe ge beres" (duh, yang begituan sih gue tinggal suruh tukang sehari juga jadi). Dan akhirnya mereka memberanikan diri memperbaiki siap dengan foto2 pengerjaan.
  4. Ketika ada KAA (konfrensi Asia Afrika) warga dihimbau untuk menata hijau2 trotoar depan rumahnya ditata (tentu saja dengan kocek sendiri). Warga karena disuruh pemerintah sih manut2 aja (dan untungnya termasuk warga mampu). Tapi pas udah jadi pekteh dibongkarin lagi karena katanya harus seragam supaya cantik. Pohon2 dicabutin lagi, iya gampang kalo teh2an, lah ada pula yang nanam palem gimana? Dicabut dan tidak dipikirkan akan dikemanakan pula. Setelah itu mereka menggantinya dengan "bunga impor yang mahal" (padahal banyak juga bunga lokal yang lebih murah tapi bagus). Setelah itu, guess what..warga yang disuruh memaintain "kebun bunga" itu setiap hari.
  5. Beberapa tahun kemudian alias tahun ini, diganti lagi setelah dibongkar (lagi) sebelumnya (hasil warga yang melihara juga) dan diganti dengan rusuh karena ada peresmian bak bunga raksasa cikapayang. Sebagai catatan, saya kesana pas peresmian dan lewat trotoar tsb ternyata yang bagus cuma sisi dari jalan raya, sisi trotoar dekat pejalan kakinya gundul keneh (walikota ga akan lewat sini soalnya).
  6. Ketika Bandung jadi Lautan Sampah, warga Dago penggal ini tidak kuatir sama sekali dengan sampah mereka karena mereka tidak memiliki sampah. kenapa? karena mereka mengolah sampah milik mereka sendiri (ada yang diproses jadi kompos dan ada yang dibakar). Harusnya diberi jempol inisiatif ini. Tapi lagi2 mereka malah ditegur ama dinas terkait karena kuatir mereka
    jadi tidak ada kewajiban bayar sampah dan mereka jadi ga bisa beli truk
    sampah baru. Bahkan mereka pernah mengajukan ke PEMDA proses pengolahan cara mereka supaya bisa ditiru ditempat lain (maksudnya membantu meringankan tugas pemerintah) tapi malah dianggap "semacam ancaman" bagi dinas terkait (bisi ga dapet proyek sampah???). Benar2 aneh negara ini teh..
  7. Ada kabar dari Pak RW bahwa pas perluasan jalan Dago sertifikat masih yang lama, jadi jalan depan rumahnya sekian meter masih milik dia..?? hehehe
  8. Dan banyak lagi lah kasus lain yang ga cukup saya ceritakan semua disini…

Duh, ko jadi cape yah nulis segini teh..sekian dulu ah ntar disambung lagi..

3 Responses to “Sebuah Prolog dari pak RW”

  1. Dyah Says:

    “Benar2 aneh negara ini teh..

    betul Ni…
    ikut bete bacanya juga :D

  2. ruse-erus Says:

    heuheuh
    karunya pisan nya warga dago teh

    mangkana mening pindah ka wilayah setiabudhi

    aya keneh tanah kosong da..
    di sekitar rumah urang…
    heuheuhe

  3. yacht charter croatia Says:

    yacht charter croatia
    Nice Site.

Leave a Reply